620x350 Hati yang Melayani
Artikel » Hati Yang Melayani (2) - Steve Tabalujan | 10 Nov 2013 - 21:05

Hati Yang Melayani (2) - Steve Tabalujan

Artikel berikut ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya. Klik ini untuk artikel sebelumnya.

4. Melayani  itu jangan pernah melihat kebelakang.
Fil.3:13 “Aku mengejar apa yang di depan…” Prinsip pelayanan yang penting, kita tidak boleh berhenti untuk hanya kagum atas apa yang kita capai di masa-masa yang lampau. Kita harus terus berjalan, kita sadar pekerjaan Tuhan masih belum selesai, masih belum lengkap, masih banyak yang bisa kita kerjakan. Tidak bisa kesuksesan masa lalu itu menjadi penghalang di dalam pelayanan setiap kita. Melayani dengan tidak melihat apa yang kita sudah kerjakan itu  sempurna. Tidak juga merasa apa yang sudah kita capai menjadi sesuatu kebanggaan dan kesuksesan kita.
5. Melayani itu harus dengan menikmati kepuasan tersendiri di dalam nya.
Kis.20:35 kalimat Tuhan Yesus, “Adalah lebih berbahagia orang yang memberi daripada menerima.”
2 Kor.8:1-15 Paulus bicara mengenai pelayanan jemaat di Makedonia. Ini menjadi prinsip pelayanan mereka: ‘find a kind of satisfaction in serving others than to be served.’
Bukan soal melayani atau tidak melayani, tetapi pada waktu kita melayani temukanlah satu kepuasan di dalamnya. Itu akan membuat pelayanan kita lebih stabil, lebih konsisten seumur hidup kita.
Ada kerelaan hati, ada sukacita, ada cinta yang muncul sehingga waktu kita mengerjakannya kita bisa menikmati keindahan di dalamnya.
Pelayanan itu ditopang dengan hati yang generous.
6. Melayani dengan Murah Hati.
Luk.6:36 “Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.”
Memberikan hospitality.  Konsep ini penting sekali karena ini salah satu yang Tuhan mau ada di dalam hati kita,  sebab ada tertulis di  Ibr.13:2 “Janganlah kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang yang tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”
Orang lain berbeda dengan saudara sendiri. Orang lain berbeda dengan jemaat sendiri. Orang lain berbeda dengan anggota gereja sendiri.
Kita gampang melayani ‘sesama’ tetapi sulit buat ‘others.’
Sesama berarti kadang-kadang mungkin dituntut adanya "hukum timbal balik", tapi kalau others berarti kita memberi dan jangan berharap mendapat balasan karena mungkin dia hanya orang asing yang numpang lewat saja. Disitu lha menurut saya, konsep hospitality ini muncul.
Kalau kita sebagai anak-anak Tuhan hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita, melayani kepada orang yang sudah melayanimu, memberi kepada orang yang sudah memberi kepadamu, itu tidak berbeda jauh dengan orang yang tidak percaya Tuhan.
Mulai jadikan hari-hari kita memberi untuk orang lain dan hari-hari yang lain menjadi hari milikmu. Jadikan ada hari di dalam hidupmu, waktu di dalam hidupmu, bagian di dalam hidupmu bagi orang lain. Artinya, itu memang keluar dari hidup kita dengan tidak menuntut balas kembali.
Kalau  kita datang ke gereja dengan pikiran, ‘apa yang bisa saya dapat, apa yang bisa kita dapat?’ kita akan kehilangan aspek hospitality ini.
Biar masing-masing dari kita semakin mempunyai "Hati yang Melayani"

 

4. Melayani itu jangan pernah melihat ke belakang.

Kitab Filipi 3:13 “Aku mengejar apa yang di depan…” Prinsip pelayanan yang penting, kita tidak boleh berhenti untuk hanya kagum atas apa yang kita capai di masa-masa yang lampau. Kita harus terus berjalan, kita sadar pekerjaan Tuhan masih belum selesai, masih belum lengkap, masih banyak yang bisa kita kerjakan. Tidak bisa kesuksesan masa lalu itu menjadi penghalang di dalam pelayanan setiap kita. Melayani dengan tidak melihat apa yang kita sudah kerjakan itu  sempurna. Tidak juga merasa apa yang sudah kita capai menjadi sesuatu kebanggaan dan kesuksesan kita.

5. Melayani itu harus dengan menikmati kepuasan tersendiri di dalamnya.

Kisah Para Rasul 20:35 kalimat Tuhan Yesus, “Adalah lebih berbahagia orang yang memberi daripada menerima.”

2 Korintus 8:1-15, Paulus bicara mengenai pelayanan jemaat di Makedonia. Ini menjadi prinsip pelayanan mereka: ‘find a kind of satisfaction in serving others than to be served.

Bukan soal melayani atau tidak melayani, tetapi pada waktu kita melayani temukanlah satu kepuasan di dalamnya. Itu akan membuat pelayanan kita lebih stabil, lebih konsisten seumur hidup kita.

Ada kerelaan hati, ada sukacita, ada cinta yang muncul sehingga waktu kita mengerjakannya kita bisa menikmati keindahan di dalamnya.

Pelayanan itu ditopang dengan hati yang generous.

6. Melayani dengan Murah Hati.

Lukas 6:36
“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

Memberikan hospitality. Konsep ini penting sekali karena ini salah satu yang Tuhan mau ada di dalam hati kita,  sebab ada tertulis dalam

Ibrani 13:2
“Janganlah kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang yang tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”

Orang lain berbeda dengan saudara sendiri. Orang lain berbeda dengan jemaat sendiri. Orang lain berbeda dengan anggota gereja sendiri.

Kita gampang melayani ‘sesama’ tetapi sulit buat ‘others.’

Sesama berarti kadang-kadang mungkin dituntut adanya "hukum timbal balik", tapi kalau others berarti kita memberi dan jangan berharap mendapat balasan karena mungkin dia hanya orang asing yang numpang lewat saja. Dalam hal inilah menurut saya, konsep hospitality ini muncul.

Kalau kita sebagai anak-anak Tuhan hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita, melayani kepada orang yang sudah melayanimu, memberi kepada orang yang sudah memberi kepadamu, itu tidak berbeda jauh dengan orang yang tidak percaya Tuhan.

Mulai jadikan hari-hari kita memberi untuk orang lain dan hari-hari yang lain menjadi hari milikmu. Jadikan ada hari di dalam hidupmu, waktu di dalam hidupmu, bagian di dalam hidupmu bagi orang lain. Artinya, itu memang keluar dari hidup kita dengan tidak menuntut balas kembali.

Kalau kita datang ke gereja dengan pikiran, ‘apa yang bisa saya dapat, apa yang bisa kita dapat?’ kita akan kehilangan aspek hospitality ini.

Biar masing-masing dari kita semakin mempunyai "Hati yang Melayani."

Steve Tabalujan lahir di Jakarta, 6 Agustus 1975. Dia telah mempelajari musik sejak usia empat tahun. Dia lulus dari International Yamaha Grade Examination, Japan, untuk Piano, Electone dan Fundamental grd. 5 & 4. Grade 8 untuk Piano dari Royal School of Music, London. Dia bergabung sebagai anggota JOC (Junior Original Concert) in 1985-1991. Dia mendapat banyak penghargaan dari beberapa festival band baik lokal maupun nasional. Steve Tabalujan lulus sebagai Bachelor of Music in Piano Perfomance dari Sweelinck Conservatorium Amsterdam, Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Steve adalah seorang musisi, penulis lagu, arranger, pengajar piano dan salah seorang pemimpin kelompok sel di gereja JPCC.

Sumber: Artikel pribadi penulis

Artikel disunting oleh Tim Penyembah.Com

comments powered by Disqus