620x350 Hati yang Melayani
Artikel » Hati Yang Melayani (1) - Steve Tabalujan | 10 Nov 2013 - 20:56

Hati Yang Melayani (1) - Steve Tabalujan

Matius 20:26-28
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”

1. Melayani itu adalah Privilege.

Barangsiapa ingin menjadi besar…, kalimat ini memberi indikasi Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki ambisi untuk menjadi besar, memiliki keinginan menjadi orang yang "besar" di dalam pelayanan Tuhan. But if you want to be great, jadilah hamba dengan contoh melayani.

Melayani Tuhan itu berarti sesuatu hak khusus yang Tuhan beri kepada setiap kita. Kenapa? Sebab Kristus di sini menaruh prinsip pelayan, murid-murid menjadi hamba bukan sebagai sesuatu yang Dia paksa inginkan tetapi Dia sendiri telah memberi contoh.

Waktu Dia menebus hidup kita, Dia memberikan semua keagungan, kebesaran, dan kemulianNya buat kita.Tidak ada orang yang menjadi besar tanpa dia memberikan contoh terlebih dahulu menjadi pelayan di dalam melayani. Itulah sebabnya ‘to serve is a privilege.

2. Melayani itu Anugerah.

Dalam kitab 2 Korintus 4:1 bagi saya ini adalah salah satu prinsip pelayanan yang penting dari rasul Paulus yang mengatakan, “This is by grace of God, this is by His kindness to me…" Saya bisa ambil bagian di dalam pelayanan karena ini adalah anugerah kebaikan dari Tuhan, saya terima dengan hati bersyukur.

Dalam Bahasa Indonesia nya, "Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati"

Bukan saja kita harus setia dalam melayani Tuhan, tetapi Tuhan juga mau kita untuk berani.

Dalam kitab Bilangan pasal 13, "Aku akan memberikan tanah perjanjian itu kepadamu tetapi engkau harus maju berperang untuk mendapatkannya." Tanah perjanjian yang diberi Tuhan itu adalah anugerah. Kalau Tuhan tidak memberikannya, kita tidak bisa mendapatkannya. Tetapi bisakah itu datang kepada kita seperti satu hadiah jatuh dari langit?

Kita tidak boleh abaikan prinsip ini: bahwa segala sesuatu yang datang ke dalam hidup kita itu datangnya sebagai berkat dan anugerah dari Tuhan.

Setiap kali anugerah itu datang, dia selalu datang bersamaan dengan respons yang berani.

 

  • Menerima pelayanan Tuhan itu sebagai kepercayaan, jangan terima dengan pasrah.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah dan berkat Tuhan, jangan terima secara terpaksa.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah Tuhan, jangan terima dengan malas.
  • Menerima pelayanan sebagai berkat  Tuhan yang datang ke dalam hidupmu jangan terima sebagai sesuatu yang begitu saja datang.

Kalau anugerah Tuhan datang kepadamu, jangan terima dengan pasif dan pasrah. Tuhan tuntut respons dan reaksi dari sisi kita. Karena kemurahan Allah saya terima pelayanan ini dan saya terima dengan spirit berani.

3. Melayani itu harus tuntas, jangan setengah-setengah!!

Galatia 6:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.”

To serve until goal’s happening di dalam hidup kita. Memulai sesuatu itu gampang, tetapi konsisten berada di dalam perjalanan itu bukan hal yang gampang. Hati kita gampang jatuh bangun, kemudian kecewa, pudar, tawar, hal itu lumrah di dalam hidup kita. Tetapi di tengah-tengah seperti itu kita tidak boleh mengabaikan hal ini.

Tetapi setiap kita melayani Tuhan, tidak boleh tidak harus berani jalan terus & maju.

Mazmur 126:5-6,
“Orang yang menabur benih sambil mencucurkan air mata pasti pulang dengan sorak sorai membawa berkas-berkasnya.”

Berjalan maju dengan air mata tetap tabur benih, pasti pulang membawa berkas-berkasnya. Banyak orang mau tabur benih, mau lekas-lekas dapat berkas-berkasnya tetapi tidak mau dua hal ini: berjalan maju (menabur benih) dan dengan air mata.

Setiap kita melayani, kita punya goal. Kita harap ingin terus maju. Pelayanan tetap harus berjalan. Kalaupun belum tercapai tetap hati kita harus selalu ada goal.

Artikel ini bersambung ke bagian 2. Klik ini untuk bagian selanjutnya.

Steve Tabalujan lahir di Jakarta, 6 Agustus 1975. Dia telah mempelajari musik sejak usia empat tahun. Dia lulus dari International Yamaha Grade Examination, Japan, untuk Piano, Electone dan Fundamental grd. 5 & 4. Grade 8 untuk Piano dari Royal School of Music, London. Dia bergabung sebagai anggota JOC (Junior Original Concert) in 1985-1991. Dia mendapat banyak penghargaan dari beberapa festival band baik lokal maupun nasional. Steve Tabalujan lulus sebagai Bachelor of Music in Piano Perfomance dari Sweelinck Conservatorium Amsterdam, Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Steve adalah seorang musisi, penulis lagu, arranger, pengajar piano dan salah seorang pemimpin kelompok sel di gereja JPCC.

Sumber: Artikel pribadi penulis

Artikel disunting oleh Tim Penyembah.Com

comments powered by Disqus